Sekelumit Kisah Ibu Hebat Indonesia

Jurnalaktual.com – Dibalik suksesnya seseorang peran seorang ibu yang utama. Ini beberapa ibu kisah ibu hebat yang dapat anda pelajari.

1. Sujiatmi Notomiharjo

Sujiatmi Notomiharjo adalah Ibu dari Presiden RI, Joko Widodo. Bagi Jokowi dan adik-adiknya, Sujiatmi terasa lebih tegas dibanding ayah yang tak banyak bicara. Anak-anak tak berani membantah bila ibu sudah berkata-kata. Sujiatmi juga menjadi sosok pertama yang memompa semangat anak-anak saat harus menghadapi ujian hidup.

Misalnya, ketika Jokowi muda gagal masuk sekolah atas yang diimpi-impikan, tapi kemudian berhasil menembus UGM. Usaha kayu yang dirintisnya juga pernah bangkrut, wanita ini pula menjadi motor kebangkitan sehingga berkembang jauh lebih besar.

Meski berhasil menjadikan anak-anaknya mandiri, bahkan putra sulungnya sekarang seorang presiden, Sujiatmi tak pernah mengajarkan untuk mendewakan harta dan kekuasaan. Ketika awal Jokowi berpolitik, ia sempat berpesan jangan menjadikan jabatan publik sebagai tempat mencari kekayaan. “Mengurusi rakyat itu harus ikhlas. Jika ingin kaya tetaplah jadi pengusaha saja,” ujarnya.

Peran ibu oleh Sujiatmi tak berhenti saat anak-anaknya sudah dewasa atau menikah. Ia tetap dijadikan tempat berkeluh kesah dan rujukan penting keputusan-keputusan yang mereka buat. Restunya tetap sangat dibutuhkan saat Jokowi hendak bertarung dalam pilkada DKI atau diberi mandat sebagai bakal calon presiden. Ia bahkan kerap kali ikut “blusukan” saat Jokowi kampanye.

Tak sedikit orang dengan sinis menyebut “kesederhanaan” Jokowi hanya pencitraan. Namun andai orang melihat keseharian Sujiatmi, mereka akan paham bahwa kesederhanaan tersebut memang sudah dipupuk sejak lama dan kini mengalir dalam darahnya.

Bagi Sujiatmi, melahirkan, mengasuh, dan membesarkan anak-anaknya bersama suami dengan sebaiknya-baiknya merupakan kewajiban. Modal yang diberikan hanya iman, akhlak, dan pengetahuan. Hidup akan penuh cobaan. Mereka kelak harus saling bantu dan menguatkan.

2. Halimah

Bagi Chairul Tanjung kunci sukses yang paling besar dan paling utama, yang membuatnya menjadi seperti sekarang adalah ibunya, Halimah. Bermula dari cerita sang Ibu diwaktu CT sudah masuk fakultas Kedoktera Gigi UI, untuk membayar uang masuk kuliah saja sang Ibu harus menggadaikan kain halus satu-satunya miliknya.

Sejak mendengar cerita sang Ibulah, CT kemudian bertekad tidak mau mensia-siakan pengorbanan sang ibu dengan menjadi mahasiswa berprestasi dan bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri hingga tamat. Dari usaha Fotocopy sampai jual beli mobil bekas serta penggadaan alat-alat mahasiswa kedokteran gigi, ia lakoni. Selepas kuliah, ia memilih terjun ke dunia Bisnis.

Jatuh bangun dan turun naik keadaan bisnis CT memang sudah biasa bagi pengusaha. Pada tahun 1995, sang Ibu berniat menunaikan ibadah Haji ke Mekkah. CT memutuskan ia sendirilah yang mendampingi ibunya naik haji. Mendelegasikan semua pekerjaan yang ditinggalkannya selama di Mekkah kepada orang kepercayaannya.

Ternyata, selama di Mekkah itulah CT mendapat banyak sekali pengalaman rohani, yang membuatnya semakin mencintai ibunya, dan semakin yakin keputusannya untuk mendampingi ibunya adalah sesuatu yang bukan saja tepat, tetapi sudah merupakan suatu amanah.

Sejak pulang dari naik haji mendampingi ibunya itu, CT mengaku, korporasinya di bawah nama Para Grup mengalami kemajuan yang jauh lebih pesat daripada sebelumnya. Sejak 11 Desember 2011, nama Para Grup diganti dengan nama CT Corp. Chairul Tanjung. Di 2014, Majalah Forbes mendaulat CT memiliki kekayaan sebesar $4 Miliar dan termasuk orang terkaya nomor 375.

3. Hasri Ainun Besari

Hasri Ainun Besari atau yang lebih dikenal dengan ibu Ainun Habibie.
Lahir dan besar di keluarga yang memiliki perhatian lebih terhadap pendidikan, mengantakan beliau memperoleh gelar dokter di Universitas Indonesia. Hal ini tentu saja membuat beliau menjadi seorang ibu yang memiliki perhatian lebih pada pendidikankedua putranya (Ilham Habibie dan Thareq Kemal).

Ibu Ainun pernah bekerja sebagai dokter di RSCM Jakarta selama satu tahun. Tepat pada tahun1962, setelah menikah dengan bapak B.J. Habibie, beliau memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti suaminya ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Pilihan tersebut tentulah dianggap oleh beberapa kalangan sebagai pilihan bodoh dan irrasional. Bahkan mungkin ada yang beranggapan bahwa itu adalah bentuk pengekangan bagi seorang perempuan. Tapi, bagi ibu Ainun, pilhan ini tidaklahmenjadi masalah, karena ini menjadibentuk tanggung jawabnya sebagai seorang istri.

Perempuan cerdas tentu akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Sebagai seorang ibu,yang bertanggung jawab, beliau membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian. Beliau selalu memberikan ruang kepada anaknya untuk mengembangkan kepribadian mereka sejak kecil. Beliau juga mengajarkan anak-anaknya untuk bertanya tentang berbagai hal yang tidak mereka ketahui, karena beliau sadar pentingnya membangun keingintahuan dan kreatifitas anak sejak dini.Hidup sederhana menjadi salah satu titik tekan pendidikan ala ibu Ainun.

Beliau mendidik anak-anaknya untuk berani mengemukakan pendapat lewat diskusi di rumah. Baginya, cara tersebut adalah proses belajar yang harus dilalui oleh anak, dan menjadi waktu bagi orang tua melaksanakan kewajibannya memberikan bekal hidup bagi anaknya. Dan dari tangan seorang ibu Ainun, 2 anaknya sukses dalam pendidikannya.

Dalam sebuah pidatonya, bapak Habibie pernah menyampaikan bahwa di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran 2 perempuan, yaitu ibu dan istri. Kutipan tersebut bisa dijadikan peganan bahwa perempuan yang memilih untuk berada di ranahdomestik masih memiliki andil besar dalam sebuah perubahan tatanan masyarakat, melalui didikannya kepada anak atau melalui keikhlasannya menjadi teman bagi suami. Ibu Ainun melakukan hal tersebut dengan mendidik anak-anaknya dan menjadi teman dan motivator terbaik bagi suaminya. Beliau selalu memiliki cara untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi keluarga, bahkan selalu memberikan masukan positif saat bapak Habibie menjabat sebagai presiden RI.

Selama menjadi ibu negara, beliau tak pernah letih menunjukkan dedikasi dan pengabdiannya pada suami dan negara secara bersamaan. Saat Indonesia masih berada di titik nadir pasca krisis 1998, beliau selalu bisa menempatkan dirinya sebagai ibu negara yang melayani rakyat dan memberi dukungan kepada suaminya sekaligus.

Pilihannya untuk fokus di keluarga, tak mengurangi kepeduliannya pada kegiatan sosial, seperti mendirikan Yayasan Bank Mata,Yayasan Beasiswa ORBIT dan Yayasan SDM Iptek untuk memperkenalkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masyarakat Indonesia.

Sosok seperti ibu Ainun harusnya membuka pemikiran para perempuan. Peran sebagai ibu rumah tangga bukanlah penghalang untuk berkegiatan di ranah publik. Kedua-duanya bisa menjadi satu paket, jika perempuan-perempuan bisa belajar dan mencerdaskan dirinya sendiri.

4. Fatmawati

Fatmawati
Pandai, teguh pada pendirian, mandiri, dan berprinsip adalah sikap yang menggambarkan sosok Fatmawati, The First Lady Republik Indonesia. Usia Fatmawati baru 19 tahun ketika disunting Bung Karno yang waktu itu 41 tahun. Putri Hasan Din yang asli Bengkulu itu, menjadi first lady yang menorehkan sejarah. Fatmawati, dinikahi Bung Karno pada era pendudukan Jepang, mengikuti pasang surut perjuangan mencapai kemerdekaan.

Dalam masa awal kemerdekaan, tak jarang Fatmawati yang memiliki penguasaan bagus dalam hal nilai-nilai keagamaan, didaulat berbicara di atas podium. Ia juga kerap mendampingi suaminya berkunjung ke berbagai daerah baik Jawa Tengah, Jawa Barat, maupun Jawa Timur untuk mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Ia juga dikenal dalam latar yang jauh dari gemerlapan. “Tak pernah aku mengalami mempunyai tempat makan, kamar tamu, kantor, teras, kamar rekreasi dari masa kanak-kanak hingga remaja…” tulisnya dalam memoar.

Besarnya cinta Fatmawati pada suami ternyata terus diuji. Soekarno kembali terpikat perempuan lain, yaitu Hartini. Munculnya Hartini memang tak dikehendaki Fatmawati. Ia memilih berpisah dan keluar dari istana, meski sejatinya masih mencintai suami. Ia rela menanggalkan status Ibu Negara dan hidup sederhana di sebuah rumah di jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.

Fatmawati menjalani berbagai usaha bersama putra sulungnya, Guntur. Terakhir bahkan ia dikarunia kepandaian menyembuhkan antara lain dengan memijat. Rumahnya di Jl. Sriwijaya pernah dikontrakan kepada perusahaan asing. Tanah malah dijual untuk menyekolahkan Guruh ke Negeri Belanda.

Fatmawati, sosok ibu yang tidak pernah dibenci anak-anaknya. Ia memang bukan termasuk pahlawan nasional. Namun, ialah sosok wanita tegar, wanita yang rela cintanya terbagi, wanita yang telah melahirkan sosok wanita super, yakni, Megawati Soekarno Putri, seorang wanita yang pernah memimpin negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *