Kemanakah Keadilan Bagi Warga Wage Dalam Perjuangkan TKD Selama 4 Tahun?

Sunarto: ”Empat tahun sudah biaya kami habis banyak dalam memperjuangkan TKD ini, kami bingung harus kemana untuk mendapatkan keadilan, tuntutan kami cuma dikembalikan saja TKD warga Wage pada yang berhak”

 Sidoarjo-JA. Warga Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, hingga kini masih terkatung nasibnya bagaimana tidak?. Selama hampir 4 tahun mereka masih berjuang dalam mempertanyakan raibnya tanah kas desa (TKD) yang disinyalir dijual untuk proyek perumahan Grand Aloha Regency. Apalagi warga dengan adanya surat keputusan kades (perdes) tahun 2003 yang menyatakan jika TKD itu keliru dan pihak desa sudah mendapat kompensasi uang 900 juta. Padahal sejak awal Desa Wage mempunyai sebidang tanah seluas 1,7 hektare. Warga yang curiga dengan perdes itu, beramai- ramai menuju balai desa setempat 2014 silam. Mereka langsung menduduki balai desa dan minta penjelasan dari Kades Iswanto, kala itu.

Sayangnya, Kades Iswanto begitu juga dengan Kades Wage terbaru 2019, Bambang Heri Sutiyono, juga tidak mendapat penjelasan apa pun hingga kini seolah setali tiga uang mereka berdua tidak ingin memberi keterangan jelas tentang dugaan raibnya TKD tersebut. Kecewa memang hingga kini terkatung nasib warga Wage yang tidak mendapat tanggapan dari kades baru dan lama, warga kemudian mengajak SJN menuju ke lokasi proyek perumahan untuk memberi penjelasan pada SJN. ”Kami minta kejelasan tanah desa kami. TKD seluas 8 ancer atau 1,7 hektare harus kembali ke desa, ”ucap Sunarto, selaku koordinator aksi. Menurut Misdi, salah satu warga Desa Wage, tanah yang dipatoki warga merupakan tanah TKD sesuai dengan Perdes tahun 2003. Namun, di atas lahan itu malah ada pembangunan perumahan dan surat-surat tanahnya perlu dipertanyakan keabsahannya. Baik Sunarto, Misradi, Tiamin dan Tantono mengaku heran dengan munculnya perdes baru yang menyatakan Perdes 2003 terkait TKD keliru kala itu.

Empat sekawan pejuang tanah TKD Wage yang diketuai Sunarto menerangkan, ”kenapa baru sekarang dimunculkan, bukan dari dulu, jelas ini ada MUFAKAT JAHAT demi untuk kelancaran pembangunan perumahan tersebut, ”ungkap Sunarto. Dari pengembang perumahan saat dikonfirmasi SJN, 20/01/19 terkait kasus TKD yang diduga telah raib selama 4 tahun tersebut juga tidak berani menemui bahkan enggan memberi keterangan pada warga saat mendatangi kantor PT. Sidoarjo Bangkit selaku pengembang Grand Aloha Regency di Komplek Pertokoan Pondok Candra Indah Waru, Sidoarjo. Perlu diketahui sekaligus mensegarkan ingatan kala itu lebih tepatnya 9/12/14 warga sempat melakukan aksi blokade proyek perumahan dan sempat mendapat pengamanan dari Polsek Taman. Meskipun sudah memblokade pintu masuk perumahan untuk mentuntut kejelasan keberadaan tanah kas desa (TKD).

Ratusan warga Desa Wage Kecamatan Taman Sidoarjo ngluruk Balai Desa Wage. Senin (09/12/14). Warga yang demo, masuk ke balai desa dengan melakukan orasi dan terus menanyakan tanah TKD seluas 1,7 hektare. Tiamin, salah satu kordinator aksi mengatakan, warga Desa Wage tidak mengetahui kejelasan tentang tanah kas desa itu. Warga hanya minta, tanah TKD kita itu bagaimana status kejelasannya, ”katanya. Selain menanyakan kejelasan TKD kala itu, warga juga menginginkan TKD tetap dikuasai oleh warga desa. ”Jangan sampai tanah TKD dikuasai pihak luar dan dijual tanpa seijin warga, kami minta kepala Desa memberikan penjelasan kepada Kami. Jangan sampai main-main denga urusan TKD yang milik warga, tegas Misradi.

Hingga pada 29/04/18, empat sekawan pejuang TKD Wage yakni Sunarto (Ketua), Tiamin, Misradi dan Tantono melaporkan dugaan penselewengan TKD ini ke Ombudsman Mabes Polri di Jakarta dan medapatkan tanggapan lalu dikembalikan ke Polda Jatim. ”Memang kami sempat diperiksa oleh bagian Tipikor Polda Jatim namun hingga kini masih sebatas pemeriksaan saksi dan saksi saja dari kami kami sebagai warga Wage nah untuk pihak pengembang seolah tidak pernah diperiksa itu, bagaimana ya kinerja mereka ini, saya bingung dan lelah hati sebab hampir 4 tahun begini-begini saja, ”tukas Sunarto. Misradi menambahkan, ”kami ini sebagai warga sekaligus rakyat bagai sekawanan domba yang selalu jadi korban kebijakkan sekawanan hewan buas saja kalo tidak lolos dari mulut buaya ya masuk ke mulut harimau, serigala atau singa, mas (SJN-red), ”tambah Misradi dengan ngenes.

Sunarto mentegaskan, ”jika memang nasib TKD kami masih tetap tidak jelas dan menggantung maka dengan terpaksa kami akan mengkirimkan surat terbuka kepada Bapak Presiden Jokowi sebab kami sudah lelah dan hampir tidak percaya dengan proses hukum dari Ombudsman Mabes Polri dan Polda Jatim yang seolah lamban, mas. Enam tahun sudah biaya kami habis banyak dalam memperjuangkan TKD ini, kami bingung harus kemana untuk mendapatkan keadilan dan tuntutan kami cuma dikembalikan saja TKD warga Wage pada yang berhak, mas, Bapak Jokowi presiden kami tolonglah kami, ”pungkas Sunarto sembari mengusap air mata yang hampir meleleh, 29/01/19. ban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *