Puisi Cinta dari Guru BK

Malam ini langit cerah, kulihat dari jendela kaca tampak bulan purnama bersinar terang. Indanya malam tak seindah hatiku yang sedang gundah. Aku duduk di meja belajar menatap beberapa buku pelajaran yang terbuka di depanku. Bolpoin yang berada di genggamanku juga sedikitpun tak meggoreskan tinta pada kertas.  Jam dinding telah menunjukkan pukul Sembilan lewat dua puluh menit tapi belum ada satupun PR yang aku kerjakan. Aku malas mengerjakannya, pikiranku tak dapat focus belajar. Luka hati yang kurasakan seolah membuatku terpaku dalam kesedihan. Bayangan wajah Theus seolah tak bisa hilang dari pikiranku. Baru saja kami mengakhiri hubungan cinta padahal kami sudah menjalinnya lebih dari dua tahun.

***

Di sekolah sudah hampir satu minggu ini aku tak dapat menagkap materi pelajaran yang disampaikan guru. Di kelas memang aku diam saat guru menerangkan dan pandanganku lurus ke depan tapi pikiranku masih terbayang wajah Theus.

”Clara, senyum dong…Kok diem aja!” gurau Faradila teman sebangkuku yang sekaligus menjadi teman curhatku. ”Udah beberapa hari ini kamu gak punya semangat sekolah, lupain aja tuh cowok brengsek yang suka nyakitin kamu.”.

”Gimana cara nglupainnya? Aku udah berusaha tapi luka hati ini masih belum ada obatnya.” Jawabku dengan senyum yang berat.

”Obatnya itu kamu harus menyibukkan diri jangan sampai ada waktu senggang buat nglamun. Tiap hari kamu harus banyak berdoa, ngaji,  nonton TV, main game, ngerjain PR dan belajar. Kalau murung terus kamu gak bakal bisa nglupain si playboy itu!” jelas Faradila

Ditengah pelajaran ada suara orang mengetuk pintu. Perhatian sekelaspun teralihkan pada daun pintu yang berbunyi. Saat Pak Tardjono membukakan pintu, ada seorang siswa dari kelas lain yang masuk  membawa surat kecil.

”Panggilan kepada Clara. Silahkan ke ruang BK menemui Pak Rudi.” Kata Pak Tardjono pengajar Matematika di kelasku

”Baik Pak.”Jawabku

Aku heran kenapa aku sampai dipanggil ke BK. Sepertinya aku tak memiliki suatu kasus selama aku sekolah. Jantungku berdetak kencang dan langkahku terasa berat, pikiranku samakin kalut diliputi rasa bertanya-tanya.

“Clara, belakangan ini saya lihat kamu suka murung. Kenapa?” Tanya Pak Rudi

“Nggak Pak…” jawabku grogi

“Kemarin saya mendapat laporan tentang kamu, ada beberapa mata pelajaran yang kamu tidak mengerjakan PR, kamu sering datang terlambat, nilai ulangan harian anjlok, dan saat pelajaran kamu suka nglamun. Ada apa Clara?” Pak Rudi kembali bertanya

“Nggak Pak…” jawabku masih grogi

“Clara, kamu jangan takut. Saya hanya ingin tahu saja tentang masalah kamu barang kali bisa membantu. Saya juga  tidak akan membocorkan sebuah rahasia. Kalau punya masalah tidak kamu tuntaskan sampai kapan kamu akan begini?” jelas Pak Rudi

“Tatheus, Pak?” jawabku grogi

“Kenapa dengan Tatheus?” Tanyanya

Aku mulai bersuara. Aku menceritakan masalahku setelah putus cinta dengan Tatheus cowok yang biasa disapa Theus . Cinta itu bermula saat kami menjadi teman sekelas saat duduk dikelas 9. Aku tahu kalau dia itu seorang playboy dan sering berganti pacar. Waktu pacaran biasanya tidak terlalu lama, setelah putus tak lama pasti ada gadis yang menjadi penggantinya. Walau dia seorang playboy tapi tetap tak mengurangi rasa cintaku. Memang sebenarnya aku yang dulu mencintainya dan aku berusaha mendapatkannya. Kadang dari kejauhan kucuri pandangannya, kalau ada PR aku sering meminjam bukunya, akhirnya kami menjalin cinta. Sekarang kami duduk di kelas 11, kami sudah menjalin cinta lebih dari dua tahun tapi itu tak berjalan mulus dalam arti putus nyambung.

“Carilah cowok yang tak pernah menyakiti.” Kata Pak Rudi

“Saya sayang banget sama dia. Saya juga tak ingin kehilangan dia.” Kataku

“Sekarang ikuti kata saya. Berdirilah dan pejamkan mata.” Perintah Pak Rudi

Aku berdiri disamping kursi dan kupejamkan mata. Aku ikuti instruksinya tanpa tahu apa maksudnya.“Berputarlah lima kali lalu ambil bolpoint di meja ini.” Perintah Pak Rudi

Aku berputar-putar sambil menghitung lima kali lalu kuraba-raba mencari meja. Saat berputar sepertinya aku salah balik badan, yang kuraba malah daun pintu. Pak Rudi terdengar tertawa kecil melihatku. Aku berputar meraba-raba mencari meja namun tanpa sengaja siku tanganku menyenggol sandaran kursi. Rasa sakit itu menyadarkan aku dan seketika mataku terbuka.

“Aduh…” aku memekik

“Enak nggak jadi orang buta?” Tanya Pak Rudi

“Nggak Pak…” jawabku

“Cinta itu buta tapi jangan buta karena cinta. Orang yang kamu cintai telah banyak membuatmu sakit hati, sampai kapan kamu terus begini?” Tanyanya lagi

Aku hanya diam . Mukaku tertunduk, seolah Pak Rudi mengerti tentang masalahku. Masalah remaja yang tak lepas dari persoalan cinta. Pak Rudi adalah guru BK di sekolahku. Kulitnya sawo matang, sedikit gemuk, beliau gemar mengenakan arloji.

“Jika ia pergi meninggalkan tanpa alasan, jangan biarkan ia datang kembali dengan alasan. Maksud saya dia sudah memutuskan kamu kalau suatu saat dia minta balikan, jangan lagi kau terima cintanya karena itu akan membuatmu kecewa untuk yang kesekian kalinya.”  Pak Rudi menjelaskan. “Clara! Cinta sejati adalah cinta pada Sang Ilahi, cinta pada sesama  itu sifatnya sementara suatu saat bisa berpindah ke lain hati.” tambahnya

“Iya Pak. Betul itu. Memang sebelum jadian dengan Theus, saat SMP saya juga pernah pacaran sama teman di sekolah.” Kataku

“Lebih baik pikirakan sekolahmu karena sekolah adalah masa depanmu.” tambahnya

Selepas dari ruang BK, nasihat Pak Rudi terus kuingat-ingat. Jajaran kata-katanya yang puitis ingin kutulis dalam benakku yang setiap saat bisa kupakai memotivasi diri untuk menjadi pribadi yang baik.

***

Hari telah berganti minggu dan hari minggu sudah lewat berkali-kali. Perlahan-lahan aku berhasil melupakan Theus. Walau kadang dia masih menghubungi dan mengajak kembali merajut cinta tapi aku tolak. Nasihat Pak Rudi ibarat puisi cinta yang mampu membangkitkan semangatku untuk menjalani hari-hari tanpa berlarut dalam kesedihan.

“Siapa yang bisa mengerjakan soal nomor satu, silahkan maju ke depan.” Kata Pak Tardjono saat mengajar Matematika

“Saya, Pak!” kataku

Aku maju ke depan untuk mengerjakan soal nomor satu di papan tulis disusul teman-teman yang lain mengerjakan soal nomor berikutnya. Setelah selesai dikerjakan semua baru dibahas bersama-sama.

“Clara, kamu nggak grogi ngerjain soal di depan?” Tanya Faradila

“Ngapain grogi?” tanyaku balik

“Kalau maju ke depan aku takut jawabanku salah terus ditertawain teman-teman.” Jawab Faradila

“Kalau aku udah yakin sama jawabanku, aku maju ke depan. Kalau salah kan nanti bisa dibenerin sama-sama.” Jawabku

“Kamu udah lupa bener sama si playboy itu. Kalau misalnya dia punya pacar lagi cewek di sekolah ini perasaan kamu gimana?” Faradila kembali tanya

“Ya nggak gimana-gimana gitu loh….” Jawabku sambil bercanda

Aku dan Faradila tertawa kecil. Pak Tardjono sempat melirik ke arah kami karena bercanda saat pelajaran. wik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *