ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jakarta, Jurnalaktual.com :
Oleh : H Asep Djuanda – Ketua PMI Kota Jakarta Pusat
Pelaksanaan Bulan Dana PMI di DKI Jakarta kali ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Gelombang pemberitaan yang kurang sedap membuat kegiatan penggalangan dana PMI menjadi sorotan publik.
Persoalan ini bermula dari adanya target pengumpulan dana yang ditetapkan kepada sejumlah sasaran, mulai dari masyarakat, birokrat, ASN, hingga perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Pemberitaan mengenai target dan nominal sumbangan yang telah ditentukan menuai protes dari masyarakat.
Persoalan ini kemudian mendapat perhatian Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Respons beliau terbilang keras dan terkesan menunjukkan kegeraman atas informasi yang diterimanya.
Situasi semakin berkembang ketika muncul pernyataan Gubernur bahwa PMI tidak memiliki ruang untuk memungut dana dari masyarakat.
Pemberitaan di salah satu stasiun televisi swasta bahkan mempertegas pernyataan tersebut dengan judul yang menyebutkan bahwa PMI tidak boleh memungut sumbangan masyarakat di Jakarta, baik secara sukarela maupun tidak sukarela.
Dampaknya sangat besar. Pernyataan tersebut menyebar luas dan menjadi perbincangan masyarakat.
Kepercayaan sebagian masyarakat terhadap pelaksanaan Bulan Dana PMI pun ikut terpengaruh. Tidak sedikit warga yang kemudian enggan memberikan sumbangan. Bahkan, kupon Bulan Dana yang telanjur beredar di masyarakat mulai dikembalikan kepada PMI.
Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran terhadap hasil perolehan Bulan Dana tahun ini. Sangat mungkin jumlah dana yang terkumpul tidak mencapai harapan.
Jika hal itu terjadi, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh organisasi PMI, melainkan juga berpotensi memengaruhi keberlangsungan berbagai program pelayanan kemanusiaan pada tahun mendatang.
Namun, di tengah situasi yang sulit ini, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: pelayanan kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena masyarakat sedang tidak memberikan sumbangan.
PMI adalah organisasi kemanusiaan yang mengemban tugas untuk membantu sesama, terutama mereka yang paling membutuhkan pertolongan. Tugas itu tidak semestinya bergantung pada besar atau kecilnya dana yang berhasil dihimpun.
Selama masih ada masyarakat yang membutuhkan bantuan, selama masih ada orang yang menderita dan memerlukan pertolongan, PMI harus tetap berupaya hadir sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.
Dalam menjalankan tugasnya, PMI berpegang teguh pada Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Prinsip Kemanusiaan mengamanatkan agar pertolongan diberikan dengan mengutamakan mereka yang paling membutuhkan, tanpa membeda-bedakan.
Sementara itu, Prinsip Kemandirian menegaskan bahwa PMI harus tetap mampu menjalankan tugas kemanusiaannya secara mandiri, berpegang pada prinsip dan mandat organisasi, serta tidak kehilangan arah karena tekanan atau gejolak yang muncul di sekelilingnya.
Situasi ini harus menjadi bahan evaluasi bagi PMI, khususnya dalam memperbaiki tata kelola dan mekanisme penggalangan dana agar semakin transparan, akuntabel, serta menghormati sifat sukarela dari setiap sumbangan. Kepercayaan masyarakat merupakan modal penting yang harus dijaga dan dibangun kembali melalui kerja nyata.
Kita harus menyadari bahwa Bulan Dana hanyalah salah satu cara untuk mendukung kegiatan kemanusiaan PMI. Ketika penggalangan dana menghadapi hambatan, PMI harus mencari jalan keluar, memperkuat kerja sama, mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, dan terus membangun kepercayaan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan PMI bukan semata-mata diukur dari besarnya dana yang terkumpul, melainkan juga dari kemampuannya menjaga komitmen untuk menolong sesama dalam keadaan apa pun.
Sesulit apa pun kondisi PMI, pelayanan kemanusiaan harus tetap berjalan.
Sebab, ketika seseorang membutuhkan pertolongan, ia tidak seharusnya dibiarkan menunggu sampai kondisi organisasi kembali baik atau dana terkumpul sesuai harapan.
Kemanusiaan tidak boleh berhenti. Pengabdian tidak boleh padam. Dan PMI harus tetap hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia DKI jakarta
Reporter : Edo












