jurnalaktual.com | | Cirebon, Rabu, 28 October 2026 — Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Makasar, Dr. (HC) Syafruddin Mahud, S.Pd.I., M.Pd., C.A.H., bersama Sultan Kacirebonan, P.R. Abdul Gani Natadiningrat, S.E., menerima penghargaan Global Citizenship XXI dan Aristocrat Philosopher World UNESCO dalam rangkaian Konvensi Supra Nasional Luar Biasa 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut berlangsung di Bangsal Prabayaksa, Keraton Kacirebonan.
Acara ini dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, kalangan akademisi, serta undangan dari berbagai latar belakang. Pangeran Prof. Dr. Muhammad Sholeh Ridwan, Ph.D., selaku National President Branch Indonesia, hadir untuk menyerahkan penghargaan kepada para penerima.
Penganugerahan tersebut menjadi momentum untuk merefleksikan kembali pentingnya kepemimpinan, intelektualitas, pengabdian kepada masyarakat, serta kontribusi tokoh dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman bangsa.
Bagi MWC NU Makasar, momentum ini diharapkan dapat memperluas ruang pengabdian organisasi sekaligus memperkenalkan kiprah Nahdlatul Ulama dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, dan berkeadaban.
Bhinneka Tunggal Ika: Berbeda-Beda, Tetap Satu dalam Pengabdian Penyelenggaraan kegiatan di lingkungan Keraton Kacirebonan memberikan makna tersendiri.
Keraton bukan sekadar simbol perjalanan sejarah dan kebudayaan, melainkan juga ruang perjumpaan nilai-nilai tradisi, kebangsaan, dan kemanusiaan. Pertemuan tokoh agama, pemimpin budaya, dan akademisi dalam satu forum merefleksikan pentingnya dialog serta kerja sama lintas latar belakang.
Dalam konteks Indonesia, semangat tersebut sejalan dengan filosofi Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.
Semboyan bangsa ini mengajarkan bahwa perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, dan pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi persatuan.
Sebaliknya, keberagaman merupakan kekayaan yang harus dirawat melalui sikap saling menghormati, toleransi, keadilan, dan tanggung jawab bersama.
Filosofi Bhinneka Tunggal Ika juga memiliki relevansi kuat dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan persaudaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai prinsip kehidupan bermasyarakat.
Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Hujurat ayat 13, menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (lita’arafu), bukan untuk saling merendahkan atau mempertentangkan perbedaan.
Nilai tersebut sejalan dengan komitmen Nahdlatul Ulama dalam merawat persatuan bangsa, mengembangkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta membangun kehidupan sosial yang damai di tengah masyarakat majemuk.
Mengangkat Kiprah MWC NU Makasar ke Tingkat Internasional
Bagi MWC NU Makasar, penghargaan yang diterima ketuanya diharapkan menjadi motivasi untuk memperluas kontribusi organisasi, tidak hanya dalam lingkup lokal, tetapi juga melalui jejaring kerja sama nasional dan internasional.
“Sebagai organisasi keagamaan yang berakar pada tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, Nahdlatul Ulama mempunyai tanggung jawab untuk terus mengembangkan dakwah yang mencerahkan, pendidikan membangun karakter, serta kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat”. Ujar Ketua MWC NU Makasar yang Juga alumni Tebuireng Jombang.
MWC NU Makasar dapat mengambil peran strategis dalam memperkenalkan praktik kehidupan beragama yang moderat, memperkuat dialog antarbudaya, serta mendorong kolaborasi di bidang pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Semangat tersebut penting dalam menghadapi tantangan global, ketika perbedaan identitas, polarisasi sosial, dan konflik antar kelompok masih menjadi persoalan di berbagai belahan dunia.
Penguatan persaudaraan dan dialog lintas budaya menjadi bagian penting dalam membangun peradaban yang damai dan berkeadilan.
Dalam kerangka ini, penghargaan yang diterima diharapkan tidak berhenti sebagai simbol pengakuan terhadap individu, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi penguatan program dan jejaring kelembagaan yang membawa manfaat lebih luas.
Sinergi Agama, Budaya, dan Intelektualitas
Kehadiran Sultan Kacirebonan, P.R. Abdul Gani Natadiningrat, S.E., dalam kegiatan tersebut turut memperlihatkan pentingnya peran pemimpin kebudayaan dalam menjaga warisan sejarah dan memperkuat identitas bangsa.
Sementara itu, kehadiran tokoh agama dan akademisi menegaskan bahwa pembangunan masyarakat membutuhkan sinergi antara nilai spiritual, pengetahuan, tradisi, dan praktik sosial.
Ketiga unsur tersebut dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang berkarakter dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Agama memberikan orientasi moral, kebudayaan menjaga kesinambungan identitas, sedangkan ilmu pengetahuan membantu masyarakat menjawab persoalan secara rasional dan bertanggung jawab.
Apabila ketiganya berjalan beriringan, keberagaman tidak hanya menjadi kenyataan sosial yang harus diterima, tetapi juga menjadi modal penting untuk membangun kerja sama dan kemajuan bersama.
Di sinilah filosofi Bhinneka Tunggal Ika menemukan relevansinya: persatuan tidak menuntut semua orang menjadi sama, melainkan mengajak setiap unsur bangsa untuk memberikan kontribusi terbaik tanpa kehilangan identitas dan jati dirinya.
Dari Penghargaan Menuju Khidmah bagi Umat dan Bangsa
Penganugerahan Global Citizenship XXI dan Aristocrat Philosopher World UNESCO diharapkan menjadi penyemangat bagi Ketua MWC NU Makasar untuk terus memperkuat pengabdian kepada umat dan bangsa.
Semangat khidmah yang menjadi karakter Nahdlatul Ulama perlu diwujudkan melalui program nyata, penguatan pendidikan keagamaan, pembinaan generasi muda, pemberdayaan masyarakat, serta upaya menjaga kerukunan sosial.
Pengakuan terhadap seorang tokoh pada akhirnya memperoleh makna yang lebih mendalam ketika mampu mendorong lahirnya manfaat bagi masyarakat luas.
Oleh karena itu, peluang untuk memperluas jejaring internasional perlu diikuti dengan kerja sama yang terukur, program berkelanjutan, dan kontribusi yang dapat dirasakan secara langsung oleh umat.
Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, MWC NU Makasar diharapkan semakin aktif mengambil bagian dalam membangun dialog, merawat persaudaraan, dan memperkenalkan nilai-nilai Islam yang damai di tengah pergaulan global.
Berbeda dalam identitas, bersatu dalam kemanusiaan, dan bersama dalam pengabdian.
Semangat inilah yang perlu terus dirawat agar keberagaman menjadi kekuatan bangsa Indonesia sekaligus inspirasi bagi masyarakat dunia.
Penghargaan ini diharapkan menjadi awal bagi langkah pengabdian yang lebih luas: dari Makasar untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk perdamaian dunia.
Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta
Reporter : Novi. N












