Jakarta, 23 Oktober 2026 – Menjadi santri bukan hanya tentang menjaga tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga tentang keberanian menyampaikan gagasan, kepercayaan diri untuk mengambil peran, dan kesiapan menghadirkan perubahan bagi masyarakat. Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam Santri Talks 2026 bertajuk “Santri Berbicara, Indonesia Mendengar”, yang menghadirkan ruang dialog mengenai peran santri dalam menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kesantrian.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Gus Abdul Wahid Hasyim, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum; Gus Ulinnuha Lazulfa, Koordinator Nasional AISNU; serta Mahyatul Fikriya, content creator sekaligus Duta Santri Nasional 2021. Ketiganya berbagi perspektif mengenai pendidikan pesantren, gerakan organisasi, pengembangan karakter, serta pemanfaatan media digital untuk memperluas kontribusi santri.
Ketua Umum Duta Santri Nasional, Fajar Amali Kurniawan, menyampaikan bahwa Santri Talks dihadirkan sebagai panggung gagasan bagi santri di seluruh Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya diselenggarakan secara luring di Jakarta, tetapi juga diarahkan untuk membuka ruang yang lebih luas bagi ide, gagasan, dan inovasi dari sepuluh bidang yang ada di Duta Santri Nasional. Gagasan tersebut diharapkan hadir dari para narasumber terpilih yang telah membuktikan aksi nyata di bidangnya masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fajar berharap Santri Talks menjadi langkah awal untuk melahirkan santri yang lebih berani bersuara, mengembangkan gagasan, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Rangkaian acara dipandu oleh Ahmad Wira Prasetyo (Duta Santri Nasional 2025) selaku pembawa acara (MC), dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pelaksana, Fitrotul Uyun (Duta Santri Nasional 2025), serta sambutan Ketua Yayasan Duta Santri Nasional yang disampaikan oleh M. Ikhsan Kamaluzaman (Duta Santri Nasional 2018) . Sesi talk show dimoderatori oleh Jihan Ariqatur Rafiah (Duta Santri Nasional 2025) yang mengarahkan diskusi mengenai kepercayaan diri santri, nilai-nilai pesantren, dan pembaruan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
*Membangun Kepercayaan Diri Tanpa Kehilangan Nilai*
Salah satu pesan utama diskusi adalah pentingnya membangun kepercayaan diri santri agar berani menyampaikan pendapat, mengembangkan gagasan, dan berkontribusi dalam berbagai bidang. Latar belakang pesantren bukanlah batas untuk berkembang, melainkan fondasi untuk mengambil peran yang lebih luas di tengah masyarakat.
Kepercayaan diri perlu dibangun melalui penguasaan ilmu, kesadaran terhadap potensi diri, dan kemauan untuk terus belajar. Keberanian bersuara juga harus disertai tanggung jawab, adab, serta nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam berpikir dan bertindak.
Tradisi keilmuan pesantren dan nilai-nilai Islam dapat menjadi kompas bagi santri untuk berinovasi tanpa kehilangan prinsip.
*Menjaga Tradisi, Memperbaiki Sistem, dan Memperluas Kontribusi*
Santri Talks 2026 turut menyoroti pentingnya menjaga tradisi pesantren sekaligus mendorong perbaikan sistem pendidikan dan pembinaan santri. Pesantren berperan penting dalam membentuk karakter, menanamkan adab, dan mengembangkan tradisi keilmuan. Kekuatan tersebut perlu dipertahankan sembari membuka ruang bagi pengembangan kepemimpinan, literasi digital, diskusi kritis, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Pengembangan santri membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pengasuh dan pendidik, keluarga, alumni, organisasi santri, masyarakat, hingga pemerintah dan lembaga terkait. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung santri mengenali potensi diri, meningkatkan kapasitas, dan menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata.
Di sisi lain, media digital menjadi ruang strategis bagi santri untuk menyebarkan pengetahuan, mengangkat persoalan sosial, dan memperluas jangkauan gagasan. Pemanfaatannya perlu disertai literasi digital dan tanggung jawab agar konten yang dihasilkan tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memberikan pemahaman serta mendorong perubahan positif.
*Refleksi: Tetap Berakar, Berani Membawa Perubahan*
Bagi Jihan Ariqatur Rafiah selaku moderator, Santri Talks 2026 menjadi pengingat bahwa santri tidak harus memilih antara menjaga tradisi dan mengikuti perkembangan zaman. Tantangannya adalah tetap berpegang pada nilai-nilai pesantren sembari terus bertumbuh, berpikir kritis, dan berani mengambil peran.
Kepercayaan diri santri bukan sekadar keberanian untuk berbicara, melainkan juga kesiapan mempertanggungjawabkan gagasan dengan ilmu, adab, dan nilai. Tradisi perlu dijaga, tetapi sistem pendidikan dan ruang tumbuh santri juga perlu terus diperbaiki agar mereka mampu mengenali potensi diri dan menjawab tantangan zaman.
“Santri tidak harus kehilangan jati dirinya untuk menjadi relevan. Santri hanya perlu lebih percaya diri untuk membawa nilai-nilai yang diyakininya ke ruang-ruang tempat masa depan Indonesia dibicarakan dan dibentuk.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa identitas kesantrian bukan sekadar kebanggaan, melainkan fondasi untuk menghadirkan ilmu, gagasan, dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui Santri Talks 2026, semangat “Santri Berbicara, Indonesia Mendengar” diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan, tetapi menjadi dorongan bagi santri untuk terus belajar, berani menyampaikan gagasan, menjaga nilai, dan berkolaborasi dalam menghadirkan perubahan. Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan santri yang berani berbicara, tetapi juga santri yang mampu mengubah ilmu menjadi manfaat dan gagasan menjadi kontribusi nyata bagi bangsa.












