Membangun Budaya Keselamatan Jalan Lewat Wajib Sekolah Mengemudi

- Jurnalis

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keselamatan jalan raya ditentukan oleh kesadaran, keterampilan, dan etika pengemudi. Maraknya kecelakaan akibat kelalaian manusia menjadikan sekolah mengemudi sebelum ujian SIM sebagai kebutuhan mendesak. Kebijakan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah nyata untuk menggeser cara pandang dari sekadar “bisa mengemudi” menjadi “mampu berkendara dengan aman”. Di sisi lain, kebijakan ini juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru.

Berdasarkan data Korlantas Polri (2026), kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor manusia (human error) sebesar 61 persen, faktor jalan dan lingkungan 30 persen, serta faktor kendaraan 9 persen. Faktor manusia menjadi penyebab dominan, antara lain karena melebihi batas kecepatan, tidak menjaga jarak aman, menggunakan telepon seluler saat berkendara, mengemudi dalam kondisi lelah atau mengantuk, melawan arus, berkendara di bawah umur, tidak memakai helm SNI, serta kurangnya keterampilan berkendara.

Upaya menekan human error perlu dimulai dari kewajiban mengikuti sekolah mengemudi sebelum menempuh ujian SIM. Sekolah mengemudi berperan sebagai fondasi utama untuk membentuk budaya keselamatan, etika berlalu lintas, serta pemahaman regulasi secara komprehensif. Selain itu, pelatihan yang terstruktur dapat menyiapkan calon pengemudi dari aspek penguasaan teknik dasar, kesiapan mental, hingga kepatuhan terhadap standar dan ketentuan legalitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekolah mengemudi memiliki peranan yang lebih luas daripada sekadar menjadi tempat belajar mengoperasikan kendaraan atau membantu calon pengemudi mempersiapkan diri mengikuti ujian SIM. Lebih jauh dari itu, sekolah mengemudi merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun budaya keselamatan berkendara. Setidaknya terdapat beberapa alasan utama mengapa keberadaannya penting.

Pertama, pembentukan pemahaman hukum dan etika berlalu lintas.
Berbeda dengan belajar secara mandiri yang cenderung hanya mengasah keterampilan teknis, sekolah mengemudi membekali calon pengemudi dengan pemahaman regulasi secara menyeluruh. Peserta diajarkan mengenai rambu-rambu, marka jalan, batas kecepatan, serta etika berkendara, seperti menghargai pejalan kaki, mengutamakan prioritas di persimpangan dan perlintasan sebidang, serta menjaga toleransi demi mencegah konflik di jalan.

Kedua, penguasaan teknik berkendara yang aman.
Instruktur profesional membekali peserta dengan keterampilan mengantisipasi bahaya, seperti melakukan scanning terhadap kondisi jalan, mengawasi blind spot, dan melakukan pengereman darurat. Peserta juga dilatih mengendalikan kendaraan dalam berbagai kondisi menantang, mulai dari jalan licin dan menanjak hingga melakukan manuver parkir di ruang sempit.

Ketiga, pengurangan risiko kecelakaan fatal.
Karena human error dan kepanikan dapat menjadi pemicu kecelakaan, sekolah mengemudi membekali peserta dengan keterampilan dan respons berkendara yang tepat. Pelatihan yang sistematis diharapkan dapat mengurangi kesalahan pengemudi dan menekan risiko kecelakaan fatal di jalan raya.

Keempat, fasilitas dan lingkungan belajar yang aman.
Kehadiran kendaraan khusus dengan pedal atau sistem kontrol ganda memungkinkan instruktur melakukan intervensi secara langsung ketika muncul potensi bahaya. Pembelajaran secara bertahap bersama instruktur profesional juga dapat membantu mengurangi rasa panik dan cemas yang kerap muncul ketika seseorang belajar mengemudi secara mandiri bersama anggota keluarga.

Baca Juga:  Perkuat Keimanan dan Soliditas Personel, Polres Pelabuhan Tanjung Priok Gelar Pengajian dan Doa Bersama

Kelima, kesiapan menghadapi ujian Surat Izin Mengemudi (SIM).
Sekolah mengemudi yang resmi membantu calon pengemudi memahami standar ujian teori maupun praktik yang ditetapkan oleh kepolisian. Dengan demikian, peserta diharapkan lebih siap, baik secara teknis maupun mental, ketika mengikuti proses ujian SIM.

Nama Sekolah Mengemudi di Berbagai Negara

Berbagai negara memiliki lembaga pendidikan atau pelatihan mengemudi dengan nama, sistem, dan tingkat kewajiban yang berbeda-beda. Penamaan lembaga tersebut menyesuaikan dengan bahasa lokal, budaya, serta regulasi pemerintah masing-masing negara.

Negara-negara Asia dan Asia Tenggara

Di Malaysia dikenal istilah Institut Memandu atau Sekolah Memandu. Di Singapura digunakan istilah Driving Centre atau Driving School. Thailand menggunakan istilah Rongrian Son Khap Rot atau Driving School. Di Brunei Darussalam dikenal Sekolah Memandu atau Sekolah Latihan Memandu.

Di Filipina, pelatihan mengemudi berkaitan dengan sistem yang berada di bawah Land Transportation Office (LTO). Di Laos terdapat lembaga pelatihan seperti Thongsangnang Driving School (TSN). Vietnam memiliki berbagai sekolah mengemudi, salah satunya Hoang Gia Driving School, sedangkan Kamboja memiliki lembaga seperti Gold Steer Driving School. Di Timor-Leste dikenal istilah Escola de Condução.

Di Jepang, sekolah mengemudi dikenal sebagai Jidōsha Gakkō atau Jidōsha Kyōshūjo, yang secara umum merujuk pada sekolah atau pusat pelatihan mengemudi. Sistem pelatihannya dikenal ketat dan sejumlah sekolah memiliki sirkuit ujian internal.

Di Korea Selatan dikenal istilah Unjeon Myeonheo Hakwon, yang secara harfiah berarti akademi atau lembaga pendidikan lisensi mengemudi. Sementara itu, di Tiongkok dikenal istilah Jiàxiào, yang merupakan sebutan untuk sekolah pelatihan pengemudi.

Di Arab Saudi dan sejumlah negara Timur Tengah, istilah yang digunakan antara lain Madrasat Ta’leem Al-Qiyaadah, yang berarti sekolah pengajaran mengemudi.

Negara-negara Berbahasa Inggris

Di Inggris dan Australia, lembaga pelatihan mengemudi umumnya disebut Driving School atau School of Motoring, dengan salah satu contoh yang dikenal adalah British School of Motoring (BSM).

Di Amerika Serikat dan Kanada, istilah yang umum digunakan adalah Driving School atau Driver’s Education, yang sering disingkat Driver’s Ed. Istilah Driver’s Ed umumnya merujuk pada program pendidikan atau kurikulum mengemudi bagi calon pengemudi, terutama remaja dan pemula.

Negara-negara Eropa

Di Jerman dan Austria, sekolah mengemudi disebut Fahrschule. Sistem pelatihannya mencakup pembelajaran teori dan praktik mengemudi di jalan.

Di Prancis dikenal istilah Auto-école atau École de conduite. Di Spanyol digunakan istilah Autoescuela, sedangkan di sejumlah negara Amerika Latin digunakan istilah Escuela de Manejo atau Escuela de Conducción. Di Italia dikenal istilah Autoscuola atau Scuola Guida. Sementara itu, di Belanda disebut Rijschool dan di Rusia Avtoshkola.

Baca Juga:  Sinergi TNI AL dan Basarnas, Lanal Banjarmasin Kawal dan Serahkan Barang Bukti KM Virgo Transport 8

Kurikulum Sekolah Mengemudi

Kurikulum sekolah mengemudi yang komprehensif dirancang tidak hanya untuk melatih kemampuan teknis dalam mengendalikan kendaraan, tetapi juga membangun kesadaran keselamatan jalan (road safety) dan pemahaman terhadap regulasi lalu lintas.

Setidaknya terdapat empat modul utama yang perlu disiapkan:

  1. Modul Teori Dasar dan Regulasi
    Mencakup pengetahuan mengenai rambu lalu lintas, marka jalan, peraturan, etika berkendara, keselamatan jalan, serta hak dan kewajiban pengguna jalan.
  2. Modul Praktik Lapangan Tertutup
    Mencakup penguasaan dasar kendaraan, seperti mengendalikan kemudi, akselerasi dan pengereman, parkir, manuver, berhenti di tanjakan, serta berbagai keterampilan dasar lainnya.
  3. Modul Praktik di Jalan Raya
    Peserta dilatih mengemudi dalam kondisi lalu lintas nyata, termasuk menjaga jarak aman, berpindah lajur, mengantisipasi bahaya, menghadapi persimpangan, perlintasan sebidang, serta berinteraksi secara aman dengan pengguna jalan lainnya.
  4. Modul Perawatan dan Tanggap Darurat
    Peserta diberikan pengetahuan dasar mengenai pemeriksaan kendaraan, perawatan sederhana, serta tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat atau gangguan kendaraan.

Setelah seluruh modul diselesaikan, dilakukan evaluasi melalui ujian teori dan ujian praktik. Ujian teori mencakup pemahaman terhadap rambu, etika, regulasi, dan keselamatan lalu lintas. Sementara itu, ujian praktik mengevaluasi kemampuan peserta dalam melakukan berbagai manuver, termasuk parkir, berhenti dan berjalan di tanjakan, serta mengemudi di jalan raya.

Peserta yang memenuhi standar kompetensi dapat diberikan sertifikat kompetensi mengemudi yang selanjutnya dapat menjadi salah satu persyaratan dalam proses penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM), sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Penutup

Penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai pemberian lisensi hukum untuk berkendara, melainkan sebagai bentuk legitimasi atas tanggung jawab seseorang terhadap keselamatan dirinya sendiri dan pengguna jalan lainnya.

Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan mengemudi merupakan bagian penting dalam membangun kompetensi pengemudi serta budaya keselamatan jalan. Karena itu, standardisasi sekolah mengemudi dan kurikulum pelatihan yang komprehensif perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam meningkatkan keselamatan lalu lintas.

Mengubah budaya berlalu lintas memang membutuhkan proses. Langkah tersebut perlu dimulai dari regulasi yang tegas, sekaligus diikuti dengan sistem pendidikan dan pelatihan yang terstandar. Salah satunya adalah melalui kewajiban mengikuti sekolah mengemudi sebelum mengikuti ujian SIM dalam revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Kebijakan tersebut dapat menjadi salah satu fondasi dalam membentuk budaya berkendara yang aman, selamat, tertib, dan beretika, sekaligus membuka peluang lapangan pekerjaan baru melalui kebutuhan terhadap instruktur dan tenaga profesional di sektor pendidikan mengemudi.

Djoko Setijowarno
Akademisi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat

Berita Terkait

Dari Bagansiapiapi Hingga Panipahan, Danlanal Dumai Tebar Kepedulian Bagi Nelayan Kabupaten Rokan Hilir
Kunjungi Negeri Seribu Kubah, Danlanal Dumai Bangun Sinergi Bersama Prmkab Rokan Hilir
2 Tahun Kepimpinan Presiden Prabowo, Aktifis Ahmad Mengajak Seluruh Elemen Masyarakat Tetap Jaga Keamanan & Ketertiban
Bersama Bupati Gus dr. M. Haris, M.Kes, Ketua Umum Akan Lantik DPD APKLI MP Kab Probolinggo Jatim
Menimbang Akhir Era Ganjil-Genap Jakarta
PLN Raih Predikat BUMN dengan Pelayanan Publik Terbaik Versi Survei ETOS Indonesia Institute
KRI Bung Hatta-370 Kerahkan Alutsista Penuh Evakuasi Korban KM. Virgo Transport 8
Lanal Banjarmasin Berikan Layanan Dukungan Psikososial Bagi Keluarga Korban KM Virgo Transport 8

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:02 WIB

Dari Bagansiapiapi Hingga Panipahan, Danlanal Dumai Tebar Kepedulian Bagi Nelayan Kabupaten Rokan Hilir

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Membangun Budaya Keselamatan Jalan Lewat Wajib Sekolah Mengemudi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:50 WIB

Kunjungi Negeri Seribu Kubah, Danlanal Dumai Bangun Sinergi Bersama Prmkab Rokan Hilir

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:54 WIB

2 Tahun Kepimpinan Presiden Prabowo, Aktifis Ahmad Mengajak Seluruh Elemen Masyarakat Tetap Jaga Keamanan & Ketertiban

Jumat, 2 Oktober 2026 - 05:37 WIB

Bersama Bupati Gus dr. M. Haris, M.Kes, Ketua Umum Akan Lantik DPD APKLI MP Kab Probolinggo Jatim

Berita Terbaru